Saturday, October 15, 2011

AHA dan BHA (yuuk kita lihat berbagai manfaat n efek sampingnya..)


Memahami Exfoliant

AHA vs. BHA

Ada dua cara untuk mengangkat sel-sel kulit mati dari luar kulit, yaitu dengan menggunakan alpha hydroxy acids (AHA) atau dengan beta hydroxy acid (BHA). BHA hanya ada satu jenis saja yaitu salicylic acid, tetapi AHA ada berbagai macam. Kelima jenis AHA yang muncul di dalam daftar bahan perawatan kulit yaitu; glycolic, lactic, malic, citric, dan tartaric acid. Dari semua jenis AHA tersebut, yang paling sering digunakan dan paling efektif adalah glycolic dan lactic acid. Keduanya sama-sama memiliki kemampuan penetrasi ke dalam kulit, ditambah lagi mereka paling banyak diteliti dalam hal fungsi dan kegunaannya bagi kulit.
Mau tau lebih detail ? silakan klik more...


Apa yang dilakukan oleh glycolic, lactic, dan salicylic acid adalah “melepaskan” lapisan terluar sel-sel kulit mati, membuat sel-sel yang lebih sehat dapat muncul ke permukaan. Hasilnya tekstur dan warna kulit akan semakin baik, kotoran yang membuat pori-pori tersumbat akan terangkat, dan kulit dapat menyerap pelembab dengan lebih baik. AHA maupun BHA memberi efek pada lapisan terluar kulit dan membantu meningkatkan penampilan kulit yang rusak oleh sinar matahari, kering, dan/atau kulit yang mengalami penebalan. Terutama dalam hal ini sinar matahari dapat menyebabkan lapisan terluar kulit menebal, membuat kulit terlihat kering (Sumber: Archives of Dermatologic Research, Juni 1997, halaman 404–409; Dermatologic Surgery, Mei 1998, halaman 573–577). Ada penelitian yang menunjukkan bahwa AHA dapat membuat kulit memproduksi kolagen (Sumber: Experimental Dermatology, April 2003, (Supplemen), halaman 57-63 and Dermatologic Surgery, Mei 2001, halaman 429.)

Karena AHA dan BHA bekerja dengan menggunakan proses kimiawi, mereka dapat meresap masuk ke dalam kulit dan memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan scrub, yang hanya dapat bekerja pada permukaan luar kulit saja. Selain itu, AHA dan BHA tidak akan meng-exfoliate kulit Anda terlalu banyak. Secara teknis, ada yang disebut dengan drop-off rate (tingkat jenuh), yang artinya AHA dan BHA hanya akan mengangkat sel-sel pada permukaan kulit yang sudah mati atau rusak dan tidak akan mengangkat sel kulit yang sehat. Inilah alasannya mengapa kulit Anda akan mengalami titik jenuh dalam hal penampilan ketika menggunakan produk-produk AHA ataupun BHA. Hasil dramatis yang terjadi pada awal penggunaan (ketika lapisan yang tebal dan membuat warna kulit terlihat tidak merata telah diangkat) terlihat jauh lebih mengagumkan dibanding dengan hasil dari penggunaan yang berkelanjutan. Hal ini memang akan terjadi, dan penting untuk diingat bahwa penggunaan produk-produk AHA dan BHA yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk menjaga agar kulit terus terlihat halus, memiliki warna yang merata, dan sehat.

Perbedaan utama antara AHA dan BHA adalah
AHA dapat larut dalam air, sementara BHA dapat larut dalam lemak (minyak). Sifat alami dari BHA ini membuatnya dapat menyerap masuk ke dalam minyak yang terdapat pada pori-pori kulit dan mengangkat sel-sel kulit mati yang menumpuk di dalam kelenjar minyak dan berpotensi menyumbat pori-pori. BHA paling baik digunakan pada area yang berkomedo dan memiliki blemish (bercak/jerawat), dan AHA paling baik digunakan pada kulit yang rusak karena sinar matahari, mengalami penebalan, kulit kering yang tidak cenderung berjerawat (Sumber: Global Cosmetic Industry, November 2000, halaman 56–57).

AHA dan BHA Sensitif Tingkat Keasamannya (pH)

AHA bekerja secara optimal pada konsentrat antara 5% sampai 10% dengan pH 3 sampai 4, dan tingkat keefektifannya akan menurun pada pH 4.5 ke atas. BHA bekerja paling baik pada konsentrat antara 1% dan 2%, dan optimal pada pH 3, tingkat keefektifannya akan menurun pada pH 4 ke atas. Dengan semakin tingginya pH produk atau dengan semakin kecil konsentratnya, tingkat keefektifan AHA maupun BHA akan semakin menurun (Sumber: Cosmetic Dermatology, Oktober 2001, halaman 15–18).

Bagaimana cara untuk mengetahui apakah suatu produk dapat mengangkat sel-sel kulit mati dengan efektif bila perusahaan kosmetik yang membuat produk tersebut tidak menginformasikan jumlah persentase dan tingkat pH dari AHA dan BHA (dan pada kenyataannya mayoritas perusahaan tidak menginformasikan hal ini)? Konsumen tidak dapat mengetahuinya, kecuali mereka berbelanja dengan membawa-bawa kertas pengukur kadar pH, seperti yang saya lakukan ketika sedang menilai produk exfoliant untuk ulasan produk pada Buku, Newsletter, atau Buletin Kecantikan. Sebagai aturan umumnya, akan lebih baik bila bahan AHA tercantum pada urutan kedua atau ketiga dari daftar bahan, yang artinya kemungkinan besar produk tersebut mengandung konsentrat AHA 5% ke atas. Tetapi untuk salicylic acid, tidak akan menjadi masalah bila bahan ini terletak di tengah atau pada bagian akhir dari daftar bahan karena konsentrat yang diperlukan hanya sebesar 2% sampai 0.5%.

Menarik untuk diketahui bahwa pada tingkat keasaman berapapun, AHA tetap memberikan keuntungan tambahan dalam hal menahan air di dalam kulit selagi bekerja mengangkat sel-sel kulit mati. Hal ini terjadi karena AHA membuat sel-sel kulit meningkatkan perlindungannya. AHA juga meningkatkan produksi ceramide pada kulit, yang membuatnya tetap lembab dan sehat (Sumber: Dry Skin and Moisturizers Chemistry and Function, diedit oleh Marie Loden dan Howard Maibach, 2000, halaman 237).

BHA dapat masuk lebih jauh ke dalam pori-pori bila dibandingkan dengan AHA, tetapi BHA tidak terlalu membuat iritasi bila dibandingkan dengan AHA. Hal ini dapat terjadi dikarenakan adanya hubungan BHA dengan aspirin. Aspirin (acetylsalicylic acid) memiliki kemampuan anti-inflammatory (anti pembengkakan) dan BHA (salicylic acid), yang merupakan turunan dari aspirin akan tetap memberikan keuntungan anti pembengkakan tersebut pada kulit.

Produk-produk AHA dan BHA sudah pasti dapat membuat kulit menjadi halus, mengurangi tanda-tanda kerusakan yang disebabkan oleh sinar matahari, memperbaiki warna kulit yang tak sama, memperbaiki tekstur, mengangkat kotoran yang menyumbat pori-pori, dan memberikan tampilan kulit yang lebih penuh dan kenyal (karena di permukaan kulit sekarang telah dipenuhi dengan sel-sel kulit yang sehat). Sayangnya produk-produk tersebut tidak memiliki efek residual—jadi ketika Anda berhenti menggunakannya maka kulit akan kembali ke kondisi sebelumnya.

Kebingungan Akan AHA

Ada beberapa bahan yang terdengar serupa dengan AHA seperti ekstrak tebu, acid dari campuran buah-buahan, ekstrak buah, ekstrak susu, dan ekstrak citrus. Anda mungkin berpikir bahwa Anda telah membeli produk AHA yang lebih alami ketika melihat nama-nama tersebut, tetapi ini sebenarnya salah. Walaupun glycolic acid merupakan turunan dari tebu, dan lactic acid turunan dari susu, hal ini tidak berarti ekstrak tebu ataupun susu sama dengan glycolic atau lactic acid. Akan tetapi mereka tetap memiliki kemampuan alami dari acid dalam hal mengikat air, sama seperti bagaimana salycilic acid memiliki kemampuan anti bengkak seperti relasinya, yaitu aspirin.

Bila Anda tidak melihat glycolic, lactic, malic, tartaric, atau citric acid pada daftar bahan, maka Anda tidak dapat benar-benar tahu apa yang sesungguhnya Anda beli. Pesan saya sebaiknya Anda berhati-hati pada produk-produk yang menyatakan sebagai produk AHA dan mengandung beragam bahan yang terdengar serupa dengan bahan AHA tetapi tidak mengandung lima bahan-bahan yang telah disebut di atas.

Kebingungan akan BHA

Produk-produk yang seringkali menggemborkan mengandung sumber alami dari salicylic acid (BHA) biasanya menambahkan kulit pohon willow. Kulit pohon willow mengandung salicin, bahan yang bila dikonsumsi secara oral (ditelan) akan diubah oleh proses pencernaan menjadi salicylic acid. Hal ini artinya untuk mengubah kulit pohon willow menjadi salicylic acid akan membutuhkan kehadiran enzim yang dapat merubah salicin menjadi salicylic acid. Oleh karenanya, kemungkinan penggunaan kulit pohon willow dalam jumlah sedikit sebagai bahan pembuat kosmetik untuk dapat meniru efektifitas salicylic acid pada kulit adalah nol. Walaupun begitu, kulit pohon willow sesungguhnya memiliki keunggulan dalam hal anti pembengkakan karena ia cenderung memiliki komposisi yang serupa dengan aspirin.

Bagaimana dengan AHA yang konsentratnya lebih tinggi?

Mengangkat lapisan terluar kulit dapat dilakukan secara berlebihan, dan banyak dermatologis kosmetik dan peneliti khawatir bahwa iritasi dan exfoliasi yang disebabkan oleh AHA dengan jumlah konsentrat lebih dari 10% akan terlalu berat untuk kulit. Jumlah konsentrat yang tinggi dapat menghasilkan efek samping lebih banyak dan tidak dapat memberikan keuntungan yang lebih. Selain itu, kesimpulan wanita maupun pria yang menganggap AHA dengan konsentrat lebih tinggi memberi hasil lebih baik biasanya didapat dari pembengkakan dan edema (pembengkakan karena jumlah air berlebih) yang diakibatkannya. Pembengkakan dan edema dapat menghilangkan penampilan kulit yang berkeriput dan membuat kulit terasa lebih lembut, tetapi sesungguhnya untuk jangka panjang hal ini tidak baik untuk kesehatan kulit karena artinya kulit terus menerus mengalami iritasi.

Polyhydroxy Acids

Pencarian bentuk AHA ataupun bahan tambahan yang dapat meningkatkan penampilan dengan kemungkinan iritasi yang lebih kecil telah menjadi topik bahasan yang populer diantara para pembuat formula kosmetik. NeoStrata percaya bahwa Gluconolactone (salah satu jenis dari polyhydroxy acid) dapat memenuhi kedua hal tersebut: ia dianggap seefektif AHA tetapi lebih kecil kemungkinannya dalam menyebabkan iritasi bila dibandingkan dengan AHA.

Gluconolactone (PHA) mirip dengan AHA. Perbedaan yang signifikan antara keduanya adalah gluconolactone memiliki struktur molekul yang lebih besar. Hal ini membatasi kemampuan penetrasinya ke dalam kulit, tetapi juga membuat efek samping iritasi pada sebagian jenis kulit menjadi berkurang. Jadi apakah gluconolactone lebih baik untuk kulit Anda bila dibandingkan dengan AHA? Penelitian menunjukkan bahwa hasil penggunaan AHA dan PHA adalah identik, dengan AHA sedikit lebih baik dalam memperbaiki penampilan kulit dan PHA lebih sedikit kemungkinan membuat kulit iritasi (Sumber: Cutis, Februari 2003, (Supplemen 2), halaman 14-17).

Retinoids (Retin-A, Differin, dan Tazorac)

Biar saya perjelas di sini bahwa retinoid bukanlah exfoliant (pengangkat sel kulit mati). Retinoid merupakan istilah umum yang mengacu pada berbagai macam bahan yang merupakan turunan dari Vitamin A. Retinoid yang diresepkan dan diaplikasikan dengan dioleskan sangat signifikan efeknya pada kulit karena mereka dapat secara positif mempengaruhi bagaimana sel-sel terbentuk jauh di dalam dermis.

Bila Anda memiliki kulit yang rusak karena sinar matahari, kering, keriput, atau cenderung berjerawat, Anda pasti sudah sering mendengar nama-nama seperti Retin-A, Renova, Differin, Avita, dan Tazorac, dimana semuanya mengandung berbagai macam bentuk retinoid. Bahan aktif dalam Retin-A, Avita, dan Renova adalah tretinoin, Differin menggunakan adapalene, dan Tazorac menggunakan tazorotene. Pada kenyataannya, baik Renova maupun Tazorac telah disetujui oleh FDA sebagai perawatan untuk kulit keriput (Sumber: Dermatologic Surgery, Juni 2004, halaman 864-866; Archives of Dermatology, November 2002, halaman 1486-1493; Clinical and Experimental Dermatology, Oktober 2001, halaman 613–618; dan www.fda.gov).

Exfoliant seperti AHA dan BHA terutama mempengaruhi permukaan kulit (epidermis) atau bagian dalam permukaan pori dengan melepaskan lapisan-lapisan sel kulit. Sebaliknya, retinoid mempengaruhi lapisan bawah kulit (dermis), dimana sel-sel baru diproduksi. Retinoid berkomunikasi dengan sel kulit ketika mereka terbentuk, memberitahukan mereka untuk berkembang dengan normal dan tidak menjadi sel yang rusak karena sinar matahari atau sel yang secara genetik memiliki bentuk yang abnormal.

Mengapa bisa terjadi kebingungan mengenai efek retinoid terhadap kulit? Hal ini terutama karena fakta bahwa produk-produk yang mengandung retinoid dapat menyebabkan iritasi dan pembengkakan, mengakibatkan kulit bersisik dan kering. Kulit yang bersisik dan kering ini bukanlah disebabkan oleh exfoliation (terangkatnya sel-sel kulit yang mati), dan ini bukanlah hasil yang diharapkan untuk terjadi. Bila penggunaan retinoid terus menerus membuat kulit Anda kering dan bersisik, maka ini sudah pasti merupakan suatu masalah dan mungkin sebaiknya Anda menghindari produk-produk tersebut atau mengurangi frekuensi pemakaian.

Di samping keuntungan yang bisa didapat oleh kulit dari retinoid, jangan mengharapkan retinoid untuk dapat menghilangkan keriput karena mereka bukanlah obat bagi masalah keriput. Akan tetapi, bila sel-sel kulit dapat diproduksi dengan bentuk yang lebih sehat, maka permukaan kulit akan tampil lebih lembut, sel-sel kulit akan memiliki siklus pergantian yang lebih normal, lapisan pelindung terluar kulit akan tetap tak tersentuh, meningkatkan respon penyembuhan diri kulit, dan seterusnya. Pada intinya, kulit akan bertindak dan terlihat seperti sebelumnya (sampai titik tertentu) sebelum ia rusak oleh sinar matahari.

Tetapi bila Anda tidak mengenakan tabir surya dan menggunakan produk yang mengandung retinoid, kulit justru akan lebih rentan untuk rusak. Tidak ada satupun cream anti keriput di dunia ini, bahkan yang disetujui oleh FDA sekalipun, dapat memberikan hasil-hasil positif bila Anda tidak menggunakan tabir surya yang efektif; tanpanya, Anda justru hanya akan menambahkan kerusakan pada yang sudah terakumulasi.

Kesamaan yang produk-produk retinoid, AHA, dan BHA miliki adalah sekali Anda berhenti menggunakannya, kulit Anda akan kembali ke kondisi sebelumnya. Produk-produk ini tidak akan menghasilkan perubahan yang permanen. Penampilan luar yang halus hanya akan bertahan selama Anda menggunakan mereka. Tetapi bila digunakan dalam jangka panjang, mereka merupakan senjata paling ampuh dalam memerangi masalah keriput dan blemish.

1 comment:

  1. Adakah efek utama dan efek samping yang merugikan kulit apabila menggunakan aha+bha jngka panjang? Misalkan kulit jadi tipis.. Saya sudah menggunakan sabun aha+bha 2 tahun lebih

    ReplyDelete